BIMA, NTB – Ribuan warga Kota Bima tumpah ruah sejak pagi di jalur start Festival Rimpu, Sabtu (25/4/2026). Tepat pukul 07.00 Wita, iring-iringan peserta bergerak meriah dari Paruga Na’e menuju Asi Mbojo, memadukan langkah tradisi dan semangat kebersamaan dalam peringatan HUT Kota Bima ke-24.
Di tengah lautan warna dan riuh budaya, satu sosok tampil mencuri perhatian: Kapolres Bima Kabupaten, AKBP Muhammad Anton Bhayangkara Gaisar, S.I.K., M.H. Bukan hanya karena beliau hadir didampingi para pejabat utama (PJU) Polres Bima, melainkan karena busana adat yang dikenakannya begitu memesona.
Dengan gagah, AKBP Anton mengenakan penutup kepala khas Bima dan sarung tenun Bima yang melilit anggun. Setiap helai benang tenun itu seolah berbicara: bahwa pemimpin hadir bukan hanya untuk mengayomi, tapi juga merawat akar budaya.
Melalui Kasi Humas AKP Adib Widayaka, Kapolres menyampaikan kekagumannya yang tulus.
"Saya sangat mengagumi budaya Rimpu yang dimiliki oleh Kabupaten Bima dan Kota Bima," ujarnya.
Ia menjelaskan, Rimpu bukanlah sekadar pakaian. Budaya ini lahir pada pertengahan abad ke-17 Masehi, setelah Islam masuk ke wilayah Kesultanan Bima. Dari segi fungsi, Rimpu sejajar dengan jilbab atau cadar, yakni untuk menutup aurat bagi kaum perempuan.
"Mari kita lestarikan dan kenalkan budaya lokal. Semoga menjadi daya tarik wisatawan untuk melihat lebih jauh keindahan Indonesia yang lebih dalam dan mendalam," ajak pria dengan dua melati di pundaknya itu.
Tak hanya meriah, Festival Rimpu tahun ini juga menyuguhkan harmoni sempurna antara tradisi dan kebersamaan. Dan di tengah gemerlapnya, satu pesan tersirat: nilai budaya akan tetap hidup jika para pemimpinnya tak malu untuk mengenakan dan membanggakannya.
Posting Komentar